Sunday, December 30, 2018

Kematian

"Oh, dulu engkau sebuah nama yang berperan dalam hidupku, sekarang engkau jadi rinduku, kucakar-cakar tanah berharap menemukanmu. Ternyata engkau sudah dalam sebuah pusara dengan kedalaman setinggi orang berdiri dan tangan melambai ke atas. Kepergianmu sungguh membuat tanah yang tandus menjadi basah. Membuat samudra kalah dengan air mata. Membuatku kesepian dalam kerumunan. Oh, rinduku,
Saat itu engkau menyerahkan jiwamu, aku hanya berharap doaku ada di sampingmu."

Saturday, December 29, 2018

Akupun tidak tahu kapan tubuhku berada dibawah taburan bunga
Bahkan sampai tidak seorangpun mengatakan selesai
Hanya saja cintaku tidak sampai disitu
Aku tidak berakhir dengan itu
Cintaku belum terselesaikan
Dan tidak pernah selesai

Aku tidak melihat akan dikau
Dan ini bukan menjadi alasan untuk tidak memahamimu
Sebab dulu, sekarang, dan yang akan datang
Hatiku kau buat berputar
Tetapi, entahlah...
Yang jelas engkau yang terdalam

Friday, December 14, 2018

Aku akan bersembunyi dalam unsur kalium kotoran sapi
Yang bersanding dengan pohon melati
Dan diracik menjadi minyak wangi
Dengan begitu setiap kali engkau memakai
Dengan mudah ku mencuri pelukanmu



Kekasihku...
Maafkan
Hamba belum mampu merawat wajahmu
Seperti engkau merawatnya
Maafkan
Hamba belum mampu menjadi pelindungmu
Seperti engkau melindungi dirimu
Dan Maafkan
Hamba belum mampu mencintaimu
Seperti cintamu pada dirimu

Monday, December 10, 2018

Kata

Berbahan abjad yang  tidak sama
Bahkan abjad  hati terdaftar
Disilang oleh bibir sesuka mereka
Berpola bebas tanpa batas
Tak memikul kebersalahan
Sebab ia dititahkan
Oleh anyaman mulut manusia
Ia bebas menghunus siapa saja
Juga bebas meghakimi siapa saja
Bahkan hadir di pengajian dan kemaksiatan
Kaum politisi maupun abangan
Baik sarungan maupun gelandangan

Oh jelitaku...
Saat dikau mengujiku
Bisa saja kau tutup telingamu
Untuk tidak mendengarkan celotehanku
Bisa saja kau tutup matamu
Untuk tidak melihatku
Bisa saja kau redam mulutmu
Untuk tidak menanyakan apa kabar? Tentangku
Bahkan kau palingkan wajahmu
Sebagai tanda kebersalahanku
Tetapi, bagaimana engkau hendak menghindar dari hatiku
Sedang setiap menerima apapun darimu
Ia selalu menganggap anugrah darimu
Sebelum pena mengalirkan tinta
Kertas ini putih tanpa noda
Layaknya harta yang berharga
Sayangnya, seringkali kata dianggap noda
Jadi di sela-sela paragraf kata
Tidak lagi dianggap bermakna
Jelitaku...
Berpijak pada bara api panas
Dengan kaki tanpa alas
Pembuktianya keras dan membekas
Bagiku semuanya tuntas
Bahkan tak lagi mengenal paras
Sebab tiada tunas yang lebih pantas
Kecuali menjadi pemuas
         Berbohong adalah seni
           Bagi mereka yang sedang mencintai

 
      Untuk apa mengharapkan kehadiranmu
    Dengan mengingatmu saja engkau datang

 
  Bicaralah bahwa aku ini milikmu hai kekasih
  Kalau tidak!! Maka yakinkan saja  bahwa aku
  telah tiada
               
            Kekasihku...
                     Catatlah apa yang aku rasakan
                     Jangan apa yang aku bicarakan

Kenal



            Hewan mengenal manusia
            Tetapi untuk saat ini mereka sedang     
            tidak mengajari kemanusiaan

Entah kemana

bagai jiwa yang ternoda Merenggut kesucian dalam raga Gemuruh resah melanda sunyi Tiada terkait Lantunan bait Sepenggal kisah tak terara...